Sunday , 26 February 2017

UPT Lapasila Kaji Kedaulatan Rakyat di dalam UUD 1945

UPT Lapasila

MALANG- UPT Pusat Pengkajian Pancasila Universitas Negeri Malang berkerjasama dengan Lembaga Pengkajian MPR RI mengadakan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Kedaulatan Rakyat di dalam Undang-undang  Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kegiatan tersebut dilangsungkan di Hotel Atria Jl. Lenjen S. Parman Malang. Turut hadir Prof. Dr. Hariyono, M.Pd Wakil Rektor I UM, beserta para dosen.

Ada 3 penyaji diantaranya ialah Prof. Dr. H. Sukowiyono , S.H., M.Hum , Dosen FIS UM,  Dr. A. Rosyid Al Atok , M.Pd, M.H. Dosen FIS UM, dan Surajuddin. SH. M.H, Dosen Universitas Widya Gama.

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya kemudian diisi dengan sambutan Wakil Rektor I UM, diteruskan dengan Sambutan Wakil MPR RI sekaligus membuka acara FGD di akhir acara perumusan dan pembacaan hasil Rumusan FGD

“Diskusi ini adalah sebuah proses yang strategis. Saya  teringat Pancasila dan Undang-Undang 1945 menjadi landasan ideologis dan konsitusional  dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena pemaknaan terhadap Pancasila dan pemahaman tentang Undang-undang , maupun terhadap kedaulatan rakyat masih bayak perbedaan.” Terang Prof. Dr. Hariyono, M.Pd

Sehingga dimasa demokrasi pemimpin Pancasila lebih bernuansa sosialis akan tetapi sejak Orde Baru sampai sekarang para penguasanya cenderung memakai Pancasila landasan kapitalis atau liberalis.

”Saya berharap mudah mudahan musyawarah ini bisa memberi pemikiran yang serius, tegas sehingga dapat memberikan pencerahan pada masyarakat, dan itu bisa diawali dari hal yang kecil. Kalau boleh mengusulkan supaya lembaga ini mulai meninggalkan istilah kebarat-baratan, misalnya Focus Group Discussion (FGD)  diganti dengan istilah  Indonesia Musyawarah.” tegas Prof Sejarah itu.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa didalam kehidupan berbangsa dan bernegara salah satu cara menghancurkan sebuah bangsa  tidak harus dengan militer saja, bisa dengan cara menjauhkan bangsa itu dari sejarahnya.

“Sehingga mereka amnesia terhadap sejarah negaranya sendiri, dan bisa juga dengan menjauhkan bangsa itu dari budaya dan bahasanya sendiri, Sehingga kalau bangsa itu sudah jauh dari budaya dan bahasanya bangsa yang bersangkutan akan hancur sendirinya,” pungkasnya.

Penulis: Budiarto& Joko
Editor: Moch Syahri
Sumber: www.um.ac.id